PikirPakar – Universitas Islam Kadiri https://uniska-kediri.id Excellent in Quality Mon, 24 Nov 2025 01:41:38 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://uniska-kediri.id/wp-content/uploads/2023/01/cropped-uniska-fav-32x32.png PikirPakar – Universitas Islam Kadiri https://uniska-kediri.id 32 32 Membumikan Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah di Era Globalisasi https://uniska-kediri.id/membumikan-ahlussunnah-wal-jamaah-an-nahdliyah-di-era-globalisasi/ Mon, 24 Nov 2025 01:41:38 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9050 Di tengah derasnya arus globalisasi yang menghadirkan beragam ideologi dan pandangan keagamaan, Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah tampil sebagai fondasi moderasi beragama yang sangat relevan bagi masyarakat Indonesia. Menurut Dr. Siti Aminah, S.Ag., M.Pd.I., dosen Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, pembumian nilai-nilai Aswaja bukan hanya kebutuhan moral, tetapi juga amanah institusional yang selaras dengan visi-misi Uniska Kediri sebagai lembaga di bawah naungan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU). Karena itu, penguatan Aswaja menjadi bagian penting dari strategi kampus dalam membentuk karakter mahasiswa yang berkepribadian Islami, moderat, dan berakhlak mulia.

Dr. Siti Aminah menegaskan bahwa urgensi nilai Aswaja di lingkungan kampus sangat tinggi. Sebagai bagian dari jaringan PTNU, Uniska Kediri memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh mahasiswa memahami dan menginternalisasi ajaran Aswaja dalam kerangka keilmuan, spiritualitas, dan etika sosial. Pembumian Aswaja bukan sekadar pengetahuan teoritis, tetapi upaya menjaga jati diri mahasiswa agar tetap berpijak pada Islam yang damai, berkeadaban, dan rahmatan lil alamin terutama di tengah maraknya paham transnasional yang mudah diakses melalui ruang digital.

Terkait harapan, Dr. Siti Aminah menjelaskan bahwa mahasiswa Uniska Kediri idealnya bukan hanya memahami Aswaja, tetapi juga mampu mengamalkan ajarannya dalam tiga aspek utama: aqidah, yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh ajaran menyimpang; ibadah, yang tertuntun pada kaidah ulama salaf; serta muamalah, yang menekankan etika interaksi sosial, keadilan, dan kemanfaatan. Ketika nilai-nilai ini tertanam dalam diri mahasiswa, mereka akan tumbuh sebagai pribadi yang berakhlak, peka sosial, dan mampu memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan Dr. Siti Aminah untuk membumikan ajaran Aswaja di lingkungan kampus ialah dengan memberikan materi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah dalam berbagai diklat organisasi mahasiswa Uniska Kediri. Melalui pendekatan edukatif ini, mahasiswa diperkenalkan pada prinsip-prinsip Aswaja secara komprehensif, mulai dari landasan keilmuan hingga penerapan nilai dalam kehidupan berorganisasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, pembentukan karakter keislaman multikultural juga menjadi fokus penting dalam penguatan Aswaja. Globalisasi mempertemukan beragam identitas dan budaya, sehingga mahasiswa perlu memiliki karakter Islam yang toleran, inklusif, dan menghargai perbedaan. Prinsip-prinsip Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), Tasamuh (toleran), dan I’tidal (adil) menjadi pedoman utama dalam membentuk mahasiswa yang mampu bersikap proporsional dan bijak dalam menghadapi kompleksitas sosial.

Sebagai penutup, Dr. Siti Aminah menegaskan bahwa membumikan Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah adalah ikhtiar berkelanjutan untuk membangun generasi muda yang moderat, berkeadaban, dan tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus globalisasi. Dengan pemahaman aqidah, praktik ibadah yang benar, etika muamalah yang matang, serta sikap multikultural yang kokoh, mahasiswa diharapkan mampu menjadi wajah Islam Nusantara yang damai dan membawa maslahat bagi masyarakat luas.

]]>
Inovasi Nanopartikel Herbal sebagai Solusi Natural Anti-PMK https://uniska-kediri.id/inovasi-nanopartikel-herbal-sebagai-solusi-natural-anti-pmk/ Sat, 22 Nov 2025 01:18:34 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9046 Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menjadi ancaman serius bagi sektor peternakan Indonesia. Gelombang kasus yang muncul pada awal 2025 tidak hanya menurunkan performa produksi ternak ruminansia, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi peternak. Di tengah tantangan keterbatasan efektivitas vaksin dan keterjangkauan distribusinya, muncul urgensi untuk menghadirkan pendekatan alternatif yang lebih adaptif, salah satunya melalui penggunaan imunostimulan berbasis bahan alam. Di sinilah gagasan inovatif dari Dr. Efi Rokana, S.Pt., MP., Dekan Fakultas Pertanian UNISKA Kediri, menemukan relevansinya.

Dalam penelitiannya yang berjudul “Inovasi Nanopartikel Kitosan Kombinasi Daun Kelor (Moringa oleifera L.) dan Biji Durian (Durio zibethinus) sebagai Natural Immunostimulan Anti-PMK di Indonesia.”  yang memperoleh Hibah Penelitian Fundamental Kemdiktisaintek, Dr. Efi mengembangkan Morrio-NP, nanopartikel kitosan yang dikombinasikan dengan daun kelor (Moringa oleifera) dan biji durian (Durio zibethinus). Kedua bahan herbal ini dikenal memiliki kandungan antioksidan tinggi, sementara teknologi nanopartikel dipilih karena mampu meningkatkan bioavailabilitas senyawa aktif sehingga efektivitasnya sebagai imunostimulan alami lebih optimal. Pendekatan ini bukan hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga memanfaatkan potensi lokal yang selama ini belum banyak dieksplorasi di bidang peternakan.

Kebaruan Morrio-NP terletak pada kemampuannya untuk diaplikasikan sebagai suplemen pakan yang mendukung sistem kekebalan tubuh ternak sekaligus bekerja sebagai agen anti-virus alami. Teknologi nanopartikel memungkinkan senyawa aktif herbal bekerja lebih efisien dalam tubuh ternak, menjadikannya alternatif yang menjanjikan dibandingkan metode konvensional. Bagi dunia akademik, penelitian ini membuka ruang baru bagi riset nanomaterial dalam bidang kesehatan hewan, dan berpotensi menghasilkan produk berdaya saing tinggi yang dapat dipatenkan.

Selain kontribusi ilmiah, penelitian ini memiliki dampak strategis bagi wilayah Kediri dan Indonesia secara luas. Dengan tingginya ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap sektor peternakan, penurunan kasus PMK menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi dan kesejahteraan peternak. Inovasi berbasis bahan lokal seperti Morrio-NP mampu menawarkan solusi yang tidak hanya murah dan mudah diperoleh, tetapi juga lebih adaptif terhadap kondisi lapangan. Jika berhasil dioptimalkan, inovasi ini dapat memperkuat ketahanan peternakan nasional secara berkelanjutan.

Sebagai penutup, Dr. Efi menekankan pentingnya riset yang berpihak pada kebutuhan masyarakat serta selaras dengan arah kebijakan nasional. Ia mendorong sivitas akademika untuk memilih topik penelitian yang memiliki kebaruan, relevansi kuat terhadap permasalahan riil, dan dilakukan melalui kolaborasi lintas disiplin. Melalui pendekatan semacam ini, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai motor inovasi yang menghasilkan solusi konkret bagi tantangan sektor pertanian dan peternakan masa kini.

]]>
Jangan Remehkan Logout: Pesan Keamanan Digital dari Staff TI Uniska Kediri https://uniska-kediri.id/jangan-remehkan-logout-pesan-keamanan-digital-dari-staff-ti-uniska-kediri/ Tue, 18 Nov 2025 05:31:53 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=8977 Di tengah aktivitas digital yang semakin padat, menjaga keamanan data pribadi menjadi hal penting yang kerap terabaikan. Allif Musthofa, S.Kom., Staff Bagian Teknologi Informasi Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, membagikan tips sederhana namun memiliki dampak besar untuk menjaga keamanan di dunia digital.

“Gunakan teknologi dengan bijak. Pastikan data disimpan di tempat aman, jangan asal simpan password di browser, dan biasakan logout dari akun setelah selesai,” ujar Allif, lulusan Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya.

Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu sering dianggap sepele, padahal justru menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mencegah kebocoran data dan penyalahgunaan akun.
“Hal teknis kecil, tapi efeknya besar buat keamanan,” tambahnya.

Sebagai bagian dari tim Teknologi Informasi di Uniska Kediri, Allif melihat langsung bagaimana keamanan digital dapat memengaruhi kelancaran sistem dan kenyamanan pengguna. Ia berharap seluruh sivitas akademika dapat semakin sadar akan pentingnya menjaga keamanan akun dan data pribadi.

“Keamanan digital itu bukan hanya urusan orang IT. Semua pengguna teknologi punya tanggung jawab untuk menjaga datanya sendiri,” ungkapnya.

Baca juga: Dari SINTA ke H-Index, LPPM Uniska Kediri Terus Dorong Kualitas Publikasi Dosen

Pesan sederhana dari Allif ini menjadi pengingat bahwa menjadi pengguna yang cerdas di dunia digital bukan berarti harus ahli teknologi, tetapi cukup dengan membiasakan langkah-langkah kecil yang berdampak besar.

]]>
Semangat Sumpah Pemuda di Ranah Intelektual Mahasiswa https://uniska-kediri.id/semangat-sumpah-pemuda-di-ranah-intelektual-mahasiswa/ Tue, 28 Oct 2025 06:18:12 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=8850 Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum bersejarah yang menandai lahirnya kesadaran kolektif generasi muda terhadap pentingnya persatuan dan identitas kebangsaan. Sumpah Pemuda tahun 1928 tidak hanya mempersatukan pemuda dari berbagai daerah, tetapi juga menjadi titik balik kebangkitan nasional untuk melawan ketidakadilan dan penindasan kolonial. Dalam konteks kekinian, makna Sumpah Pemuda tetap relevan sebagai pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian anak muda dalam memperjuangkan kebenaran. Bagi Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda menjadi fondasi dalam menumbuhkan semangat keilmuan, kebangsaan, dan kemanusiaan di lingkungan akademik, agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan moral yang kuat.

Dr. Zainal Arifin, S.S., M.H., M.Pd.I., Dekan Fakultas Hukum Uniska Kediri, memaknai Sumpah Pemuda sebagai “pembangkitan semangat untuk melawan ketidakadilan.” Menurutnya, penjajahan pada masa lalu adalah bentuk perampasan hak yang melahirkan tekad kolektif untuk memperjuangkan kebebasan dan keadilan. Semangat inilah yang harus terus diwariskan kepada mahasiswa masa kini. Ia menekankan bahwa para pemuda 1928 memiliki kesadaran nasionalisme yang murni, sebuah semangat juang yang tidak digerakkan oleh kepentingan pribadi, melainkan cita-cita bersama untuk bangsa. Dalam pandangan beliau, mahasiswa masa kini perlu menghidupkan kembali semangat tersebut dalam konteks zaman modern, di mana ketidakadilan tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, melainkan ketimpangan sosial, ekonomi, dan moral yang harus dilawan dengan pengetahuan, integritas, dan solidaritas.

Lebih jauh, Dr. Zainal menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran sentral sebagai motor penggerak perubahan sosial. “Mahasiswa harus menjadi pusatnya perubahan di Indonesia,” ujarnya, “mereka adalah agen perubahan yang memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki keadaan bangsa.” Dalam era digital yang serba cepat, mahasiswa dituntut tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pencipta gagasan dan solusi. Semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui keberanian berpikir kritis, kemampuan berdialog lintas perbedaan, dan kepedulian terhadap problematika masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa bukan hanya menjadi bagian dari sistem, tetapi juga penggerak transformasi menuju keadilan sosial dan kemajuan bangsa.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Uniska Kediri memegang peran penting dalam menumbuhkan semangat kebangsaan dan tanggung jawab sosial tersebut. Melalui pendidikan yang berkualitas, UNISKA berkomitmen mencetak lulusan yang siap terjun ke masyarakat dengan bekal keilmuan yang kuat, pola pikir kritis, dan kreativitas yang tinggi. Kampus juga menanamkan nilai-nilai pluralisme dan toleransi agar mahasiswa mampu menghargai keberagaman sebagai kekayaan bangsa. Dr. Zainal menekankan bahwa Uniska Kediri berupaya menciptakan lingkungan akademik yang terbuka dan inklusif, di mana mahasiswa tidak hanya belajar memahami perbedaan, tetapi juga menjadikannya sebagai dasar untuk membangun harmoni dan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa Indonesia.

Baca Juga : Uniska Kediri Meneguhkan Peran Santri untuk Peradaban Dunia

Dengan demikian, Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan momentum reflektif bagi sivitas akademika Universitas Islam Kadiri untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap semangat persatuan, keadilan, dan kemajuan. Di tangan generasi muda kampus, api perjuangan 1928 tidak padam, melainkan menyala dalam bentuk perjuangan baru: perjuangan menegakkan keadilan sosial, memperjuangkan kesetaraan, serta menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Uniska Kediri percaya, melalui pendidikan dan semangat kebersamaan, mahasiswa mampu menjadi pewaris sejati semangat Sumpah Pemuda, generasi yang tidak hanya bangga menjadi bagian dari Indonesia, tetapi juga siap berjuang untuk masa depannya.

 

]]>
#KaburAjaDulu: Antara Fenomena dan Risiko https://uniska-kediri.id/kaburajadulu-antara-fenomena-dan-risiko/ Fri, 08 Aug 2025 01:48:17 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=7965 Tren #KaburAjaDulu yang sempat menghebohkan media sosial Indonesia mencerminkan fenomena di mana sejumlah warga negara Indonesia—khususnya generasi muda—terdorong untuk pergi ke luar negeri dengan tujuan mencari peluang kerja yang lebih baik. Narasi yang beredar sering kali menggambarkan migrasi sebagai solusi instan atas kesulitan ekonomi di dalam negeri, dengan ajakan untuk “kabur dulu” dan mengatasi masalah secara bertahap. Namun, di balik antusiasme tersebut, tersimpan risiko serius yang sering kali terlupakan, yaitu potensi terjebak dalam praktik perdagangan manusia (human trafficking).

Perdagangan manusia merupakan kejahatan transnasional yang kompleks dan mengancam hak asasi manusia. Human trafficking didefinisikan sebagai tindakan perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang dengan menggunakan ancaman, kekerasan, paksaan, penculikan, penipuan, atau bentuk tipu daya lainnya, dengan tujuan eksploitasi. Eksploitasi ini meliputi eksploitasi seksual, kerja paksa atau perbudakan modern, serta pengambilan organ tubuh secara ilegal. Definisi ini menegaskan bahwa perdagangan manusia melibatkan unsur pemaksaan dan penipuan demi tujuan memperbudak atau mengeksploitasi korban secara tidak manusiawi.

Sebagai negara dengan jumlah pekerja migran yang cukup besar di wilayah Asia Tenggara, Indonesia sangat rentan terhadap kasus perdagangan manusia. Para pelaku sering kali memanfaatkan kondisi sosial ekonomi dan minimnya pengetahuan calon pekerja tentang mekanisme migrasi yang aman dan legal.

Dalam konteks hukum internasional, perdagangan manusia termasuk dalam kategori kejahatan lintas negara yang diatur oleh instrumen utama, yaitu United Nations Convention against Transnational Organized Crime (UNTOC) dan Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children (dikenal sebagai Protokol Palermo) yang disahkan pada tahun 2000. Protokol ini mengatur pentingnya kerja sama antarnegara dalam pencegahan, penanggulangan, serta perlindungan korban. Indonesia sendiri telah meratifikasi baik UNTOC maupun Protokol Palermo dan menerbitkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), yang menegaskan komitmen hukum nasional dalam menindak kejahatan tersebut. Meskipun demikian, penegakan hukum secara internasional maupun nasional tidak akan efektif tanpa adanya peningkatan kesadaran dan kewaspadaan dari individu—terutama calon pekerja migran—yang hendak merantau ke luar negeri.

Risiko perdagangan manusia semakin nyata ketika WNI menerima tawaran pekerjaan di luar negeri tanpa melakukan verifikasi yang memadai. Janji-janji gaji tinggi dan kemudahan proses menjadi daya tarik utama yang dimanfaatkan oleh pelaku untuk merekrut korban. Namun, kenyataannya sering kali berbeda, di mana para korban justru menghadapi kondisi kerja keras dengan jam kerja berlebihan, perlakuan kasar, kekerasan, bahkan penahanan dokumen dan pembatasan kebebasan. Faktor lemahnya informasi mengenai prosedur kerja legal, minimnya pemahaman akan hukum dan perlindungan tenaga kerja di negara tujuan, serta penggunaan agen tenaga kerja ilegal atau calo yang tidak bertanggung jawab menjadi pintu masuk perdagangan manusia.

Fenomena #KaburAjaDulu yang berkembang di media sosial berisiko mendorong WNI untuk mengambil keputusan impulsif tanpa persiapan matang dan pemahaman menyeluruh tentang regulasi serta risiko hukum keimigrasian yang berlaku di negara tujuan. Hal ini semakin diperparah dengan berkembangnya modus operandi pelaku perdagangan manusia yang memanfaatkan teknologi digital, termasuk penawaran lowongan melalui media sosial dengan konten yang menarik namun menyesatkan.

Menghindari jebakan perdagangan manusia memerlukan sikap waspada dan pengetahuan yang memadai. Calon pekerja migran harus memastikan bahwa proses penempatan dilakukan melalui jalur resmi, seperti Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), serta memeriksa legalitas agen atau perusahaan penyalur tenaga kerja. Tawaran kerja yang masuk akal, dilengkapi kontrak kerja tertulis yang jelas, dan pemahaman terhadap hukum negara tujuan menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Selain itu, melindungi data pribadi dan dokumen resmi, serta menghindari penyerahan paspor kepada pihak yang tidak berwenang, adalah langkah penting untuk menjaga hak dan keselamatan.

Media sosial harus digunakan secara bijak sebagai sumber informasi, bukan sebagai sarana pengambilan keputusan yang gegabah. Mengkritisi tawaran pekerjaan dan melakukan verifikasi terhadap informasi merupakan bentuk perlindungan diri yang efektif. Jika menemukan indikasi perdagangan manusia atau eksploitasi, melaporkannya ke pihak berwenang atau lembaga perlindungan tenaga kerja migran di negara asal maupun tujuan menjadi kewajiban untuk menghentikan rantai kejahatan.

Sebagai kesimpulan, migrasi yang disertai harapan untuk perbaikan hidup memang merupakan keinginan yang sah bagi setiap individu. Namun, tren instan seperti #KaburAjaDulu mengandung risiko tinggi terhadap tindak kejahatan perdagangan manusia yang merugikan hak asasi pekerja migran. Penguatan hukum internasional dan nasional yang sudah ada harus didukung oleh kesadaran dan kehati-hatian setiap warga negara. Persiapan matang, pemahaman hukum, serta kewaspadaan menjadi kunci utama agar niat mencari kehidupan yang lebih baik tidak berujung pada eksploitasi dan penderitaan.

Siciliya Mardian Yoel, S.H., M.H.
Dosen Hukum Internasional, Prodi Ilmu Hukum, Uniska Kediri

 

]]>
AI untuk Karier: Mahasiswa Uniska Kediri Harus Siap Menjadi Pemimpin Perubahan https://uniska-kediri.id/ai-untuk-karier-mahasiswa-uniska-kediri-harus-siap-menjadi-pemimpin-perubahan/ Sun, 03 Aug 2025 07:15:18 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=7936 Artificial Intelligence (AI) kini menjadi bagian dari realitas dunia kerja, bukan sekadar topik diskusi akademik. Iska Yanuartanti, S.T., M.T., dosen pengampu mata kuliah Machine Learning di Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Uniska Kediri, menyampaikan bahwa mahasiswa perlu membekali diri dengan keterampilan baru agar tetap relevan di tengah transformasi digital yang berlangsung cepat.

“AI bukan hanya urusan mahasiswa teknik atau IT. Hampir semua sektor, dari bisnis, kesehatan, pendidikan hingga industri kreatif, sudah mulai menggunakan AI untuk efisiensi dan inovasi. Kalau mahasiswa tidak mulai belajar dari sekarang, mereka akan tertinggal,” tegas Iska saat ditemui di kampus Uniska Kediri.

Menurutnya, salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki adalah literasi AI. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa tidak harus menjadi pakar AI, tetapi penting bagi mereka untuk memahami prinsip dasar bagaimana teknologi ini bekerja. “Dengan literasi AI yang cukup, mahasiswa bisa memanfaatkannya untuk tugas kuliah, penelitian, maupun pengembangan proyek. Mereka juga akan lebih siap menghadapi dunia kerja yang sangat kompetitif,” ujarnya.

Iska mencontohkan penggunaan AI generatif seperti ChatGPT yang bisa membantu brainstorming ide, menyusun kerangka laporan, hingga menghasilkan konten visual. Namun, semua itu tetap membutuhkan pemahaman dan keahlian teknis, termasuk keterampilan analisis data. “AI itu hidup dari data. Kalau mahasiswa tidak bisa membaca, memahami, dan mengolah data, ya mereka akan kesulitan. Mulailah dari tools sederhana seperti Excel, lalu belajar Python, statistik dasar, dan cara berpikir berbasis data,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya prompt engineering, kemampuan menyusun instruksi yang tepat untuk AI. “Prompt itu seperti ‘bahasa komunikasi’ antara manusia dan mesin. Mahasiswa yang tahu cara membuat prompt yang jelas dan strategis akan bisa menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan kreatif,” tambahnya.

Namun, di tengah kemajuan teknologi, Iska mengingatkan agar mahasiswa tidak melupakan aspek humanis. “AI tidak bisa menggantikan empati, intuisi, dan nilai-nilai etika manusia. Keterampilan komunikasi, berpikir kritis, dan integritas tetap menjadi pembeda utama dalam dunia kerja,” ujarnya.

Sebagai pendidik di Uniska Kediri, Iska melihat pentingnya peran kampus dalam menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan ini. Ia mendorong adanya kurikulum adaptif, pelatihan keterampilan digital, dan budaya belajar sepanjang hayat. “Mahasiswa tidak bisa hanya belajar di ruang kelas. Mereka harus aktif mengeksplorasi, mencoba teknologi baru, mengikuti kursus daring, dan terus upgrade kemampuan,” ujarnya.

Ia menutup dengan keyakinan bahwa mahasiswa Uniska Kediri memiliki potensi besar. “AI bukan ancaman bagi karier, tapi alat untuk melesat lebih jauh. Mahasiswa Uniska Kediri harus jadi penggerak perubahan, bukan sekadar pengikut. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita siap memanfaatkannya?” pungkasnya.

]]>
Korban Pinjol Jangan Diam, Ini Langkah Hukum yang Bisa Ditempuh https://uniska-kediri.id/korban-pinjol-jangan-diam-ini-langkah-hukum-yang-bisa-ditempuh/ Sat, 02 Aug 2025 04:58:38 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=7931 Dalam beberapa tahun terakhir, kasus pinjaman online (pinjol) ilegal terus menjamur di Indonesia. Masyarakat kerap tergiur kemudahan meminjam uang tanpa jaminan, namun tak sedikit yang akhirnya terjebak dalam lingkaran bunga mencekik, pelecehan, hingga teror psikologis.

“Banyak orang tidak sadar bahwa mereka menjadi korban kejahatan digital yang serius. Mereka diintimidasi, datanya disebar, bahkan dilecehkan secara verbal oleh penagih. Ini tidak bisa dianggap remeh,” tegas Trinas Dewi Hariyana, S.H., M.H., dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Kadiri yang juga mengampu mata kuliah Hukum Perbankan.

Menurut Trinas, ciri-ciri pinjol ilegal antara lain bunga dan denda yang sangat tinggi serta tidak transparan, akses ilegal terhadap data pribadi seperti kontak dan galeri ponsel, penagihan yang disertai ancaman atau pelecehan, serta tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Kalau pinjol itu tidak terdaftar atau diawasi OJK, maka legalitasnya patut dipertanyakan,” ujarnya.

Trinas menegaskan bahwa korban pinjol ilegal memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan hukum. Salah satu langkah awal yang dapat ditempuh adalah melaporkan ke kepolisian, khususnya ke unit Siber di Polda atau Polres. “Laporkan saja. Ada banyak dasar hukum yang bisa dipakai seperti UU ITE, KUHP, UU Perlindungan Konsumen, dan peraturan OJK tentang layanan pendanaan berbasis teknologi,” jelasnya.

Ia juga menyarankan korban untuk segera mencari bantuan hukum melalui lembaga seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di pengadilan, atau organisasi non-profit yang fokus pada perlindungan konsumen. “Jangan hadapi sendiri. Banyak lembaga yang bisa membantu, dan mereka memberikan layanan hukum secara gratis,” katanya.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah mengajukan pemblokiran aplikasi pinjol ilegal ke Kementerian Kominfo dan OJK. Menurut Trinas, upaya ini penting agar aplikasi serupa tidak terus menjebak korban baru. “Jika aplikasi terus dibiarkan beroperasi, maka akan ada lebih banyak korban yang jatuh. Masyarakat perlu berani melaporkan agar pemerintah bisa bertindak cepat,” ujarnya.

Mengakhiri wawancara, Trinas berharap masyarakat semakin kritis dan berani mengambil tindakan. “Jangan takut. Korban harus tahu bahwa mereka punya hak dan jalur hukum. Jangan biarkan diri terus diteror hanya karena meminjam uang,” pungkasnya.

]]>
From Mager to Master: Trik Mahasiswa Upgrade Skill Tanpa Ribet https://uniska-kediri.id/from-mager-to-master-trik-mahasiswa-upgrade-skill-tanpa-ribet/ Wed, 30 Jul 2025 04:46:26 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=7858  

Di tengah kemudahan akses teknologi saat ini, mahasiswa seharusnya tidak lagi menjadikan kesibukan kuliah sebagai alasan untuk tidak mengembangkan diri. Hal ini ditegaskan oleh Dian Efytra Yuliana, S.T., M.T., dosen Teknik Elektro Universitas Islam Kadiri (Uniska), yang mendorong mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman dan mulai meng-upgrade skill mereka secara mandiri.

“Banyak mahasiswa terjebak dalam pola kuliah–pulang–rebahan. Padahal, peluang untuk berkembang sangat terbuka, bahkan bisa dimulai dari genggaman tangan sendiri,” ungkap Dian. Ia menekankan bahwa menjadi mahasiswa unggul tidak harus selalu dimulai dengan langkah besar, tapi cukup dengan konsistensi dalam belajar hal-hal kecil yang relevan.

Dian Efytra Yuliana membagikan trik sederhana namun efektif agar mahasiswa bisa upgrade skill -tanpa ribet, tanpa mahal, cukup dari genggaman tangan.

Dian juga menyarankan mahasiswa untuk mulai memperhatikan keterampilan apa saja yang dibutuhkan di dunia kerja. “Coba lihat lowongan pekerjaan di LinkedIn atau Glints, lalu catat skill yang sering muncul. Dari situ, kita bisa buat target belajar yang jelas,” jelasnya. Menurutnya, skill yang perlu dimiliki tidak hanya terbatas pada hard skill seperti coding atau desain sistem, tapi juga soft skill seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan presentasi.

Menariknya, Dian mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan aplikasi gratis yang tersedia secara luas. “Belajar coding, bahasa asing, atau bahkan manajemen waktu bisa dilakukan lewat aplikasi seperti Duolingo, SoloLearn, atau cukup dengarkan podcast edukatif sambil istirahat,” tambahnya. Ia menyebut bahwa tidak perlu alat canggih atau pelatihan mahal untuk mulai belajar, asalkan ada kemauan dan rutinitas.

Dalam membangun kepercayaan diri, Dian mengingatkan bahwa kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar. “Sensor nggak terbaca, program error—itu semua pengalaman berharga. Jangan takut gagal, yang penting tanggung jawab dan mau memperbaiki,” tegasnya.

Selain itu, Dian menekankan pentingnya bergabung dalam komunitas kampus, seperti HIMATEKTRO atau tim proyek IoT, untuk memperluas relasi dan mendapatkan inspirasi. “Komunitas bukan cuma tempat belajar bareng, tapi juga wadah untuk tumbuh bareng. Di sana kita bisa kenal peluang magang, lomba, atau riset,” ujarnya.

Ia pun mengajak mahasiswa untuk membuat roadmap belajar versi diri sendiri agar perjalanan pengembangan skill lebih terarah. “Bukan soal ikut-ikutan teman, tapi soal tahu apa yang kita butuhkan dan ke mana kita ingin melangkah,” kata Dian.

Baca juga: Usaha Jalan, Penjualan Mandek? Mungkin Tiga Hal Ini Lupa Dilakukan

Mengakhiri perbincangan, Dian memberi pesan inspiratif agar mahasiswa tidak menunggu waktu yang sempurna untuk mulai. “Mulailah dari langkah kecil hari ini. Dari mager bisa jadi master, dari rebahan bisa jadi pemenang,” tutupnya dengan penuh semangat.

]]>
Usaha Jalan, Penjualan Mandek? Mungkin Tiga Hal Ini Lupa Dilakukan https://uniska-kediri.id/usaha-jalan-penjualan-mandek-mungkin-tiga-hal-ini-lupa-dilakukan/ Tue, 29 Jul 2025 04:50:49 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=7847 Banyak pelaku UMKM memulai usaha dengan semangat besar. Produk dibuat, promosi dilakukan, dan penjualan mulai berjalan. Namun setelah beberapa waktu, usaha tak juga berkembang. Menurut Rafikhein Novia Ayuanti, S.E., M.M., dosen Manajemen UMKM Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, situasi seperti ini sering terjadi karena pelaku usaha terlalu fokus pada operasional harian, tanpa membangun fondasi manajemen yang kuat.

Rafikhein melihat langsung bagaimana UMKM lokal sering kali berjalan tanpa pencatatan keuangan yang rapi. Keuntungan tidak jelas, modal bercampur dengan pengeluaran pribadi, dan tak ada laporan yang bisa dijadikan dasar evaluasi. “Ini seperti berkendara tanpa peta. Mungkin bisa sampai tujuan, tapi sering tersesat dan boros energi,” ujarnya.

Selain itu, banyak UMKM belum mengenali siapa sebenarnya pasar yang mereka tuju. Produk dilempar ke semua segmen, promosi dilakukan secara acak, dan hasilnya pun tidak maksimal. Menurutnya, mengenali karakter pembeli, memahami kebutuhan mereka, serta menyesuaikan strategi promosi, adalah langkah penting agar penjualan bisa naik secara signifikan.

Hal lain yang juga sering diabaikan adalah branding. Rafikhein menekankan bahwa konsistensi dalam membangun citra usaha harus dijaga, bahkan sejak awal. Branding bukan hanya soal desain logo atau nama yang menarik, tapi soal kepercayaan, pelayanan, dan kualitas yang dirasakan langsung oleh pelanggan. “Brand yang kuat itu seperti janji. Kalau konsisten ditepati, pelanggan akan kembali,” katanya.

Yang menarik dari pendekatan pembelajaran di Uniska Kediri adalah penanaman nilai-nilai etika dan keberkahan dalam bisnis. Menurut Rafikhein, usaha tidak hanya soal untung, tapi juga soal manfaat. Kejujuran dalam bertransaksi, tanggung jawab sosial, dan semangat memberi kontribusi untuk masyarakat, adalah bagian dari manajemen UMKM yang sehat.

Lewat mata kuliah Manajemen UMKM yang ia ampu, Rafikhein berharap lulusan Uniska bisa menjadi pelaku usaha yang tangguh, terukur, dan bermakna. Namun lebih dari itu, ia berharap tips dan pendekatan ini juga bisa menginspirasi para pelaku UMKM di luar kampus. Karena di tengah persaingan yang semakin ketat, hanya usaha yang dikelola dengan sadar dan konsisten yang akan bertahan dan berkembang.

]]>
Jurus Jitu Memahami Bacaan Akademik di Era Digital https://uniska-kediri.id/strategi-efektif-memahami-bacaan-akademik-di-era-digital/ Mon, 28 Jul 2025 04:03:10 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=7821 Di zaman serba digital seperti sekarang, akses ke buku elektronik, jurnal, dan artikel ilmiah jadi sangat mudah. Sayangnya, banyak orang merasa kesulitan memahami isi bacaan akademik, cepat lelah, atau bingung terutama saat membaca teks yang berbahasa Inggris. Untuk itu, Irwan Sulistyanto, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Uniska Kediri, membagikan lima jurus jitu agar siapa saja bisa lebih mudah memahami bacaan akademik di era digital.

Jurus pertama adalah membaca dengan tujuan yang jelas. “Sebelum mulai membaca, tanyakan pada diri sendiri, apa yang ingin saya dapatkan dari bacaan ini? Dengan tujuan yang jelas, pikiran akan lebih fokus menyaring informasi penting,” kata Irwan. Dia juga menyarankan agar pembaca menggunakan teknik skimming (membaca cepat untuk ide utama) dan scanning (mencari informasi khusus) supaya tidak merasa kewalahan membaca keseluruhan teks panjang.

Selanjutnya, Irwan menyarankan untuk menggunakan kamus akademik jika artikel yang dibaca ditulis dalam bahasa Inggris, alih-alih hanya mengandalkan Google Translate. “Istilah dalam artikel ilmiah sering memiliki makna khusus. Gunakan kamus seperti Oxford atau Cambridge yang memang dirancang untuk kebutuhan akademik,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya mengenal struktur artikel ilmiah, yang umumnya terdiri dari abstrak, pendahuluan, metode, hasil, diskusi, dan kesimpulan. Menurutnya, fokus pada bagian abstrak dan diskusi dapat membantu pembaca lebih cepat memahami inti penelitian tanpa harus membaca seluruh isi artikel secara mendetail.

Irwan juga merekomendasikan penggunaan aplikasi digital seperti Mendeley atau Zotero untuk mengatur referensi, serta Grammarly untuk membantu memahami struktur kalimat yang rumit. Terakhir, ia mengingatkan supaya jangan membaca terlalu banyak sekaligus. “Lebih baik baca sedikit tapi benar-benar dipahami daripada banyak tapi hanya sekadar lewat,” katanya.

]]>