Khodbah Jumat – Universitas Islam Kadiri https://uniska-kediri.id Excellent in Quality Fri, 24 Apr 2026 02:46:08 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://uniska-kediri.id/wp-content/uploads/2023/01/cropped-uniska-fav-32x32.png Khodbah Jumat – Universitas Islam Kadiri https://uniska-kediri.id 32 32 Ujian Karakter Manusia https://uniska-kediri.id/ujian-karakter-manusia/ Fri, 24 Apr 2026 02:41:20 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9687

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin jama’ah sholat jum’ah Rahima kumullah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hadirin jama’ah sholat jum’ah Rahima kumullah.

Ada sebuah dawuh yang sangat dalam maknanya dari Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan bahwa :

المرء يتغير ثلاث, القرب من الملوك, والولايات, والغنى بعدالفقر.

فمن لم يتغير قي هذه فهو ذو عقل قويم وخلق مستقيم.

seseorang bisa berubah karena tiga hal: dekat dengan penguasa, memegang jabatan, dan menjadi kaya setelah miskin.

Perkataan ini menggambarkan betapa rapuhnya hati manusia ketika diuji dengan kekuasaan, kedudukan, dan harta. Banyak orang yang awalnya sederhana, rendah hati, dan dekat dengan kebenaran, namun berubah ketika ia memiliki akses kepada kekuasaan. Lisannya menjadi tajam, hatinya menjadi keras, dan sikapnya jauh dari keadilan.

Demikian pula ketika seseorang diberi jabatan. Amanah yang seharusnya menjadi sarana berbuat kebaikan justru berubah menjadi alat untuk mencari keuntungan pribadi. Ia lupa bahwa jabatan adalah tanggung jawab, bukan kemuliaan.

Dan ketika seseorang yang dahulu hidup dalam kekurangan kemudian diberi kekayaan, tidak sedikit yang berubah sikapnya. Ia lupa masa lalunya, enggan berbagi, bahkan merendahkan orang lain yang masih berada dalam kesulitan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

فمن لم يتغير قي هذه فهو ذو عقل فويم وخلق مستقيم.

Sayyidina Ali melanjutkan, barang siapa yang tidak berubah karena tiga hal tersebut, maka ia adalah orang yang memiliki akal yang kokoh dan akhlak yang lurus.

Inilah tujuan yang harus kita capai: tetap rendah hati saat dekat dengan kekuasaan, tetap amanah saat memegang jabatan, dan tetap dermawan serta bersyukur saat diberi kekayaan.

Karena sejatinya kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari bagaimana ia menjaga akhlaknya dalam setiap keadaan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam kebaikan, tidak berubah oleh dunia, dan selalu menjaga hati serta akhlak kita.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

]]>
Jika Bisa Dibuat Mudah, Kenapa Dipersulit? https://uniska-kediri.id/jika-bisa-dibuat-mudah-kenapa-dipersulit/ Fri, 17 Apr 2026 04:50:08 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9661

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah Setiap syukur atas berbagai nikmat, sepantasnya kita haturkan atas kehadirat Allah swt. Sebab dengan karunia-Nya tersebut, kita bisa menjalani hidup dengan tenteram. Bahkan hingga pada siang hari ini, kita masih bisa berkumpul dalam keadaan sehat dan melaksanakan ibadah Jumat dengan seksama.   Begitu juga, shalawat dan salam atas Nabi Muhammad saw, selayaknya kita konsisten mengucapkannya. Karena berkat perjuangan beliau dalam berdakwah, kita dapat merasakan kedamaian ajaran Islam, selamat di dunia, dan akhirat.

Tidak lupa kepada para sahabat, kerabat, dan ulama yang meneruskan perjuangan beliau, semoga Allah memberikan mereka pahala yang berlimpah.   Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian, mari tingkatkan ketakwaan kepada Allah swt, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu cara sederhana untuk bertakwa adalah dengan tolong-menolong dalam kebaikan. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”   Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah  Kita pasti pernah menemukan oknum di sekitar kita yang gemar mempersulit urusan orang. Padahal kalau kita amati, kebutuhan yang diperlukan oleh orang tersebut sangat sederhana dan tidak perlu banyak waktu serta tenaga untuk memenuhinya. Akan tetapi, kenyataan yang didapat justru berbelit-belit dan rumit.

Hal ini tidak terbatas pada urusan yang menyangkut birokrasi di pemerintahan saja, bahkan pada aktivitas harian, kita selalu mendapati oknum-oknum yang kelakuannya buruk seperti itu. Atau mungkin saja, sebagian dari kita justru adalah oknum itu sendiri.   Ketahuilah, bahwa menyulitkan urusan orang lain itu menyalahi pedoman Islam. Sebab dalam Islam, segala hal yang menyangkut urusan manusia itu dipermudah. Termasuk dalam urusan ibadah sekalipun. Sebagaimana yang diterangkan dalam surat Al-Hajj ayat 78:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ

Artinya: “Dan Dia (Allah) tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama.”   Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah Allah yang Maha Mulia saja tidak pernah menyulitkan manusia dalam menjalani kehidupan. Meskipun itu dalam urusan agama. Bahkan, Nabi saw memerintahkan kita, sebagai umatnya, untuk selalu mempermudah urusan manusia dan kita dilarang untuk mempersulit mereka, apapun bentuknya. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari, bersumber dari Anas bin Malik ra:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌يَسِّرُوْا ‌وَلَا ‌تُعَسِّرُوا، وَسَكِّنُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Artinya: “Nabi saw bersabda: “Permudahlah dan jangan mempersulit, tenangkanlah (atau berilah ketenangan) dan jangan membuat orang lari (karena takut).”

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah Hadits Nabi saw tentang keharusan mempermudah urusan manusia ini, berlaku untuk semua hal dalam berbagai aspek kehidupan. Artinya, kita wajib melayani siapa saja dengan tulus, baik dalam kebutuhan duniawi atau akhirat.   Jika ada orang yang membutuhkan pertolongan kita, maka kita wajib untuk mempermudah urusannya. Kita tidak boleh menyulitkan, meskipun hanya sekali saja. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, jilid I, halaman 163, menjelaskan:

وَلَا تُعَسِّرُوا) الْفَائِدَةُ فِيهِ التَّصْرِيحُ بِاللَّازِمِ تَأْكِيدًا. وَقَالَ النَّوَوِيُّ: لَوِ اقْتُصِرَ عَلَى يُسِّرُوا لَصَدَقَ عَلَى مَنْ يُسِّرُ مَرَّةً وَعَسَّرَ كَثِيرًا، فَقَالَ: وَلَا تُعَسِّرُوا لِنَفْيِ التَّعْسِيرِ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ

Artinya: “(Janganlah kalian mempersulit) maksudnya sabda Nabi ini menjelaskan tentang kewajiban yang sangat ditekankan (bagi umat Islam).

Imam An-Nawawi berkata, ‘Seandainya cukup dengan sabda ‘permudahlah’, maka itu masih bisa berlaku bagi orang yang hanya sekali memudahkan namun sering mempersulit sesama. Karena itu beliau menambahkan: ‘Dan janganlah kalian mempersulit’, untuk meniadakan sikap mempersulit dalam semua keadaan.”   Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah Islam dibangun di atas prinsip kemudahan, dan nilai itu seharusnya tampak dalam cara kita memperlakukan orang lain. Nabi saw mengajarkan agar kita mempermudah urusan sesama, bukan menyulitkan.    Namun, penting dipahami bahwa kemudahan yang dimaksud adalah dalam sikap dan pelayanan, bukan dengan mengabaikan aturan, syariat, atau prosedur formal yang berlaku. Islam tidak mengajarkan sikap semaunya sendiri, apalagi sampai melanggar ketertiban yang telah disepakati.

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah Dalam aktivitas sehari-hari, mempermudah bisa dimulai dengan cara sederhana. Saat kita menerima chat, telepon, atau permintaan bantuan dari teman, keluarga, atau kerabat, jangan diabaikan tanpa alasan yang jelas. Jika memang bisa dibantu sesuai kapasitas, bantulah dengan cepat dan jelas. Memberi kepastian, meski itu berupa penolakan yang baik, seringkali lebih meringankan daripada membiarkan orang lain menunggu tanpa kejelasan.   Kemudian, terkait urusan tanggung jawab, mempermudah juga berarti tidak menahan hak orang lain. Hutang, janji, atau tugas adalah kewajiban yang harus segera kita tunaikan. Menunda tanpa alasan yang sah adalah salah satu bentuk kezaliman yang kita lakukan untuk diri sendiri dan orang lain.

Baca Juga : Akibat Memakan Harta Riba

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah Selanjutnya, bagi kita yang berprofesi sebagai pejabat atau siapa pun yang memiliki kewenangan. Melayani masyarakat dengan baik adalah bentuk mempermudah yang nyata, selama tetap mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.    Mempermudah dalam konteks ini bukan berarti melanggar aturan atau mengakali sistem, tetapi memberikan pelayanan yang cepat, transparan, dan tidak mempersulit hal-hal yang memang sudah jelas ketentuan serta prosedurnya. Dengan begitu, kemudahan tetap terjaga tanpa mengorbankan ketertiban dalam bermasyarakat di negara hukum.

]]>
Akibat Memakan Harta Riba https://uniska-kediri.id/akibat-memakan-harta-riba/ Fri, 10 Apr 2026 04:53:34 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9627

Kaum muslimin seiman dan seaqidah.

Tepatnya ketika Allah Subhannahu wa Ta’ala memberikan mukjizat kepada hamba dan kekasihNya, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berupa Isra’ Mi’raj, pada saat itu pula Allah Ta’ala perlihatkan berbagai kejadian kepada beliau yang kelak akan memimpin jaga raya ini. Di antaranya Rasulullah melihat adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Kemudian Allah Ta’ala tempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir’aun yang mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir’aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan onta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada malaikat Jibril yang menyertainya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang diinjak-injak tadi?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba.” (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).

Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma’ kaum muslimin atas keharamannya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan shadaqah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah: 270).

Barang-barang haram yang tiada terhitung banyaknya sampai menyusahkan dan memberatkan mereka ketika harus cepat-cepat berjalan pada hari Pembalasan. Setiap kali akan bangkit berdiri, mereka jatuh kembali, padahal mereka ingin berjalan bergegas-gegas bersama kumpulan manusia lainnya namun tiada sanggup melakukannya akibat maksiat dan perbuatan dosa yang mereka pikul.

Maha Besar Allah yang telah berfirman:
“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat): Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah: 275).

Dalam menafsirkan ayat ini, sahabat Ibnu “Abbas Radhiallaahu anhu berkata:
“Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi tercekik”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40).
Imam Qatadah juga berkata:
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang yang makan harta riba.” (Lihat Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi, hal. 53).

Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawanya pergi sampai menjumpai sebuah sungai penuh darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki dan di pinggir sungai tersebut ada seseorang yang di tangannya banyak bebatuan sambil menghadap ke pada orang yang berada di dalam sungai tadi. Apabila orang yang berada di dalam sungai hendak keluar, maka mulutnya diisi batu oleh orang tersebut sehingga menjadikan dia kembali ke tempatnya semula di dalam sungai. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada dua orang yang membawanya pergi, maka dikatakan kepada beliau: “Orang yang engkau saksikan di dalam sungai tadi adalah orang yang memakan harta riba.” (Fathul Bari, 3/321-322).

Kaum muslimin sidang Jum’at yang berbahagia… inilah siksa yang Allah berikan kepada orang-orang yang suka makan riba, bahkan dalam riwayat yang shahih, sahabat Jabir Radhiallaahu anhu mengatakan:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ n آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda: “Mereka itu sama”. (HR. Muslim, no. 1598).

Semaraknya praktek riba selama ini tidak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam yang menjadikan umat Islam lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank-bank, lebih-lebih dengan semaraknya kasus-kasus pencurian dan perampokan serta berbagai adegan kekerasan yang semakin merajalela. Bahkan sistem simpan pinjam dengan bunga pun sudah dianggap biasa dan menjadi satu hal yang mustahil bila harus dilepaskan dari perbankan. Umat tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Riba dianggap sama dengan jual beli yang diperbolehkan menurut syari’at Islam. Kini kita saksikan, gara-gara bunga berapa banyak orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita tercekik dengan bunga yang ada. Musibah dan bencana telah meresahkan masyarakat, karena Allah yang menurunkan hukumNya atas manusia telah mengizinkan malapetaka atas suatu kaum jika kemaksiatan dan kedurhakaan telah merejalela di dalamnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan isnadnya jayyid, bahwasannya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

مَا ظَهَرَ فِيْ قَوْمٍ الزِّنَى وَالرِّبَا إِلاَّ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللهِ.

“Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka.” (Lihat Majma’Az-Zawaid, Imam Al-Haitsami, 4/131).

Dan dari bencana yang ditimbulkan karena memakan riba tidak saja hanya sampai di sini, bahkan telah menjadikan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya semakin dangkal yang tidak lain dikarenakan perutnya yang telah dipadati benda-benda haram. Sehingga nasi yang dimakannya menjadi haram, pakaian yang dikenakannya menjadi haram, kendaraan yang dipakaipun haram, dan barang-barang perkakas di rumahnya pun menjadi haram, bahkan ASI yang diminum oleh si kecil pun menjadi haram. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin do’a yang dipanjatkan kepada Allah akan dikabulkan jika seluruh harta dan makanan yang ada dirumahnya ternyata bersumber dari hasil praktek riba.

Sebenarnya praktek riba pada awal mulanya adalah perilaku dan tabi’at orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui bank-bank yang telah banyak tersebar. Mereka jadikan umat ini khawatir untuk menyimpan uang di rumahnya sendiri seiring disajikannya adegan-adegan kekerasan yang menakutkan masyarakat lewat jalur televisi dan media-media massa lainnya, sehingga umatpun bergegas mendepositokan uangnya di bank-bank milik mereka yang mengakibatkan keuntungan yang besar lagi berlipat ganda bagi mereka, menghimpun dana demi melancarkan rencana-rencana jahat zionis dan acara-acara kristiani lainnya. Mereka banyak membantai umat Islam, namun diam-diam tanpa disadari di antara kita telah ada yang membantu mereka membantai saudara-saudara kita semuslim dengan mendepositokan uang kita di bank-bank mereka.

Dalam firmanNya Allah Subhannahu wa Ta’ala menegaskan:
“Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih”. (QS. An-Nisa’: 161).

Lalu pantaskah bila umat Islam mengikuti pola hidup suatu kaum yang Allah pernah mengutuknya menjadi kera dan babi, sedangkan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100).

Baca Juga : Uniska Kediri Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Confucius Institute Unesa untuk Penguatan Internasionalisasi Kampus

Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita kepada jalanNya yang lurus, yang telah ditempuh oleh para pendahulu kita dari generasi salafush-shalih.

]]>
Menumbuhkan Kepedulian Sosial Di Penghujung Bulan Ramadhan https://uniska-kediri.id/menumbuhkan-kepedulian-sosial-di-penghujung-bulan-ramadhan/ Fri, 13 Mar 2026 05:35:13 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9589

Mengawali khutbah Jumat pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, khatib mengingatkan diri pribadi dan seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan itu diwujudkan dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan ketakwaanlah seorang hamba akan memperoleh keselamatan, dan dengan ketakwaan pula amal ibadah yang kita lakukan, termasuk ibadah puasa di bulan Ramadhan, akan diterima oleh Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari demi hari di bulan Ramadhan terus berlalu hingga tanpa terasa kita telah memasuki bagian akhir dari bulan yang penuh rahmat ini. Pada momentum ini marilah kita melakukan muhasabah atau introspeksi diri: sejauh mana ibadah puasa yang telah kita jalani mampu meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT? Dan sejauh mana ketakwaan tersebut mampu melahirkan kepedulian sosial terhadap sesama?

Perlu kita pahami bersama bahwa makna ketakwaan tidak hanya tercermin pada kesungguhan seseorang dalam menjalankan ibadah ritual seperti shalat dan puasa. Lebih dari itu, ketakwaan juga terlihat dari kepekaan hati terhadap kesulitan orang lain, kemauan untuk membantu mereka yang membutuhkan, serta kesediaan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

    لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebajikan sejati tidak hanya diwujudkan melalui simbol-simbol lahiriah semata, tetapi mencakup berbagai dimensi kehidupan. Salah satu bentuk kebajikan itu adalah kesediaan seseorang untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang lain yang membutuhkan, seperti kerabat, anak-anak yatim, fakir miskin, musafir, orang yang meminta-minta, serta mereka yang membutuhkan pertolongan.

Dalam Tafsir Marah Labid, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan memberikan harta “atas dasar cinta terhadapnya” adalah ketika seseorang tetap bersedia menginfakkan hartanya meskipun ia masih mencintai harta tersebut. Ia memberikannya ketika dirinya masih dalam keadaan sehat, masih memiliki harapan hidup yang panjang, serta masih merasa khawatir akan kekurangan. Namun meskipun demikian, ia tetap mampu mendahulukan kebutuhan orang lain.

Inilah gambaran nyata dari kepedulian sosial yang lahir dari ketakwaan yang sejati. Orang yang benar-benar bertakwa tidak hanya beribadah untuk dirinya sendiri, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi orang lain di sekitarnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Karena itu, marilah kita kembali merenungkan ibadah puasa yang telah kita jalani selama ini. Apakah puasa tersebut telah membentuk hati kita menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesama? Jika jawabannya sudah demikian, maka marilah kita mempertahankan dan meningkatkan amal kebaikan tersebut. Jadikan kepedulian sosial sebagai bagian dari karakter iman kita.

Namun apabila kita merasa kepedulian itu masih kurang, maka inilah saat yang tepat untuk mulai memperbaikinya. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melatih diri agar lebih dermawan, lebih peduli, dan lebih ringan tangan dalam membantu orang lain. Sebab ketakwaan yang sejati tidak hanya lahir dari niat yang tulus, tetapi juga dari tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,

Ada banyak bentuk kepedulian sosial yang dapat kita lakukan, di antaranya memperbanyak sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, menyediakan hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa, membantu para janda dan lansia yang hidup sendirian, melunasi utang orang yang benar-benar mengalami kesulitan, menolong biaya pengobatan bagi mereka yang sakit, memberikan pakaian yang layak kepada yang membutuhkan, serta membantu musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.

Bahkan hal-hal sederhana seperti memberikan senyuman yang tulus, menghibur orang yang sedang bersedih, menjenguk saudara yang sedang sakit, serta mendoakan kebaikan bagi orang lain tanpa sepengetahuannya juga termasuk bagian dari kepedulian sosial yang bernilai ibadah.

Semua itu merupakan pintu-pintu kebaikan yang terbuka luas bagi kita. Tinggal bagaimana kesungguhan kita untuk melangkah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah khutbah tentang pentingnya refleksi puasa dan penguatan kepedulian sosial ini disampaikan. Semoga apa yang kita dengar pada hari ini menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi kita semua untuk terus menumbuhkan dan mengamalkan nilai-nilai kepedulian sosial.

Karena amal sosial yang kita lakukan bukan hanya mendatangkan pahala dari Allah SWT, tetapi juga mempererat tali persaudaraan serta menebarkan kasih sayang di tengah kehidupan masyarakat.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

]]>
Bulan Sya’ban https://uniska-kediri.id/bulan-syaban/ Fri, 23 Jan 2026 02:42:26 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9439

Saat ini kita berada di Bulan Sya’ban, bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal bulan ini sangat istimewa. Rasulullah ﷺ memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban karena di bulan inilah amal-amal manusia diangkat kepada Allah. Maka Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman. Rasulullah SAW bersabda :

من استو ى يوماه فهو مغبون. ومن كان يومه سترا من أمسه فهو ملعون.

Barang siapa kalau kedua harinya (kemarin dan sekarang) sama (segi perbuatan dan tingkah laku) maka dia termasuk orang yang merugi. Dan barang diapa harinya itu lebih jelaek dari tahun kemarin maka dia termasuk orang yang terlaknat.

Oleh Karena itu. Bulan Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Sya’ban adalah bulan persiapan menuju Ramadhan. Barang siapa yang ingin Ramadhannya bermakna, maka persiapannya harus dimulai dari sekarang. Mulailah membiasakan shalat tepat waktu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, dan membersihkan hati dari dengki serta permusuhan.

Jangan menunggu Ramadhan untuk berubah, karena perubahan sejati dimulai dari kesadaran hari ini. Siapa yang bersungguh-sungguh di bulan Sya’ban, insyaAllah akan dimudahkan Allah untuk beribadah di bulan Ramadhan.

Mari kita jadikan bulan Sya’ban sebagai momentum kebangkitan iman dan perbaikan amal, agar kita tidak termasuk orang yang merugi ketika Ramadhan datang.

Baca juga: Dosa Yang Paling Besar Setelah Syirik dan Kufur

Oleh karena itu, mari kita isi bulan Sya’ban dengan memperbaiki shalat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, memperbanyak istighfar, serta membersihkan hati dari sifat hasad, iri, dan permusuhan. Inilah ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang menekankan keseimbangan antara ibadah, akhlak, dan kehidupan sosial.

]]>
Dosa Yang Paling Besar Setelah Syirik dan Kufur https://uniska-kediri.id/dosa-yang-paling-besar-setelah-syirik-dan-kufur/ Fri, 09 Jan 2026 06:13:03 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9386 Khatib dan Imam : Ustad Nur Mustofa, M.Pd.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.

Kaum Muslimin yang berbahagia,
Dosa yang paling besar secara mutlak adalah syirik. Yaitu menyembah selain Allah, atau menyembah Allah dan menyembah selain Allah sekaligus. Begitu juga kufur, seperti tidak meyakini adanya tuhan, melecehkan Allah, melecehkan Nabi, membuang mushaf al-Qur’an ke tempat sampah dengan sengaja dan lain sebagainya.

Seseorang yang mati dalam keadaan musyrik atau kafir, maka ia tidak akan mendapatkan pengampunan dosa kelak di akhirat. Adapun seseorang yang mati dalam keadaan Muslim, sebesar apapun dosa yang pernah ia perbuat, maka di akhirat keadaannya di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, dosa-dosanya diampuni. Dan jika Allah berkehendak, dosa-dosanya tidak diampuni. Jika dosa-dosanya diampuni, ia akan langsung dimasukkan ke dalam surga. Dan jika dosa-dosanya tidak diampuni, maka ia dimasukkan terlebih dahulu ke dalam neraka dan pada akhirnya ia akan dimasukkan ke dalam surga.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa-dosa di bawah syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa berbuat syirik kepada Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS an-Nisa’: 48)

Jadi dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah jika seseorang membawanya sampai mati. Adapun jika seseorang berbuat syirik kepada Allah lalu ia bertobat dari kemusyrikannya dan masuk ke dalam agama Islam dengan membaca dua kalimat syahadat, maka keislamannya menggugurkan dan menghapus syirik dan kufur yang ia lakukan sebelumnya.

Hadirin yang berbahagia,
Para ulama sepakat menyatakan bahwa satu tingkat di bawah dosa syirik dan kufur adalah membunuh. Yakni membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan hak (alasan yang dibenarkan oleh syariat). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan dosa membunuh seorang Muslim tanpa hak dengan kekufuran. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mencaci maki seorang Muslim adalah dosa besar dan membunuhnya menyerupai kekufuran” (HR al-Bukhari)

Sabda Nabi “wa qitaluhu kufrun” bukan berarti bahwa membunuh seorang Muslim adalah kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Melainkan maksudnya bahwa memerangi dan membunuh seorang Muslim adalah dosa besar yang menyerupai kekufuran. Karena ketika seorang Muslim mengetahui hak seorang Muslim atas Muslim lainnya dan mengetahui kemuliaannya menurut Allah, kemudian membunuhnya, maka seakan ia menutup mata dari hak tersebut, seakan hak tersebut tidak ada.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya kemuliaan seorang Muslim menurut Allah begitu agung. Marilah kita simak penegasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bertanya kepada para sahabat pada haji Wada’ di hari raya ‘Idul Adha:
Nabi Bertanya “Tahukah kalian bulan apa yang kalian tahu paling besar keagungannya?”
Para sahabat menjawab: “Iya, bulan kita sekarang ini.”
Nabi bertanya: “Tahukah kalian negeri yang kalian tahu paling agung kemuliaannya?”
Para sahabat menjawab: “Iya, negeri tempat kita beradasekarang ini.”
Nabi bertanya: “Tahukah kalian hari yang paling agung kemuliaannya?”
Para sahabat menjawab: “Iya, hari yang kita berada sekarang ini.”

Lalu Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh Allah ta’ala telah mengharamkan bagi kalian darah, harta dan harga diri kalian kecuali dengan hak, seperti keagungan dan kehormatan hari kalian ini, di negeri kalian ini, di bulan kalian ini.” (HR al-Bukhari) “Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram darah, harta dan harga dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dan mewanti-wanti. Jika demikian halnya, mengapa sebagian orang di masa ini membunuh seorang Muslim seakan itu perkara yang yang biasa, merampas hartanya seakan itu perkara mubah baginya, dan menodai harga diri saudaranya sesama Muslim seakan ia tidak punya nilai kemuliaan sama sekali?. Ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Sungguh hancurnya dunia lebih ringan menurut Allah daripada membunuh seorang Muslim” (HR Muslim)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
“Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam, lama ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya” (QS an-Nisa’: 93)

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah murka kepada orang yang membunuh seorang Mukmin, melaknatnya dan menyediakan baginya siksa yang berat. Karena besarnya dosa tersebut, maka siksanya di neraka sungguh berat dan lama. Hal ini jika ia tidak meyakini kehalalan dosa membunuh, juga tidak membunuhnya karena imannya. Sedangkan jika ia membunuh seorang Muslim karena meyakini kehalalan dosa membunuh atau ia membunuhnya karena yang dibunuh itu beriman dan hal itulah yang mendorongnya untuk membunuhnya, maka pelaku pembunuhan tersebut telah kafir, keluar dari Islam, kekal di neraka Jahannam dan tidak pernah keluar dari neraka selama-lamanya. Na’udzu billahi min dzalik.

Hadirin rahimakumullah,
Di antara tanda-tanda kiamat adalah banyaknya pembunuhan dan pembantaian. Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kiamat tidak akan tiba hingga ilmu diangkat oleh Allah, banyak terjadi gempa, waktu berjalan semakin cepat, banyak terjadi fitnah dan banyak terjadi al-harj, yaitu pembunuhan dan pembantaian” (HR al-Bukhari)

Baca Juga : Rajab, Bulan Istighfar dan Peningkatan Ketakwaan

Terbukti kita sekarang ini berada di sebuah masa yang banyak sekali terjadi pembunuhan dan pembantaian. Darah kaum Muslimin ditumpahkan seakan mereka adalah domba-domba di hari raya ‘Idul Adha. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di berbagai belahan dunia lainnya. Hasbunallahu wa ni’mal wakil.

]]>
Rajab, Bulan Istighfar dan Peningkatan Ketakwaan https://uniska-kediri.id/rajab-bulan-istighfar-dan-peningkatan-ketakwaan/ Fri, 02 Jan 2026 07:03:09 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9361 Khatib dan Imam : Ustad Abdullah Annas, M.Pd.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT, Mengawali khutbah Jumat pada siang hari ini, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada kita, terutama nikmat iman dan Islam yang merupakan nikmat terbesar dalam kehidupan ini. Selanjutnya, marilah kita haturkan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat kelak. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak jamaah sekalian, sekaligus mengingatkan diri khatib pribadi, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana firman Allah Taala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Qs. Ali-Imran: 102).   Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT, Baca Juga Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Haram Penuh Makna Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang mulia. Dalam ajaran Islam, bulan Rajab termasuk satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur’an, selain bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk mengisi bulan Rajab dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Dengan niat mempersiapkan diri dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, bulan Rajab menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan ibadah serta melatih dan memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat At-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa,” (Qs. At-Taubah: 36) Pada ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa jumlah bulan di sisi Allah SWT ada dua belas bulan. Di antaranya terdapat empat bulan yang dimuliakan. Salah satu dari bulan-bulan mulia tersebut adalah bulan Rajab. Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Marah Labid, juz I halaman 447, menyatakan sebagai berikut:

مِنْهَا أَيْ مِنْ تِلْكَ الشُّهُوْرِ الْاِثْنَيْ عَشَرَ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ هِيَ ذُوْ الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ

Artinya: “Di antara 12 bulan tersebut, terdapat 4 bulan yang mulia yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab”. Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT, Selanjutnya, sebagai bulan yang mulia, bulan Rajab sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk diisi dengan memperbanyak ibadah serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Terdapat banyak riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan beribadah di bulan Rajab. Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali bin Abdul Qadir dalam kitab Kanzun an-Najah wa as-Surur, halaman 136, menjelaskan bahwa bulan Rajab memiliki banyak keutamaan. Umat Islam yang melaksanakan ibadah di bulan Rajab akan memperoleh pahala yang besar, terutama amalan puasa, memperbanyak istighfar, serta bertobat dari dosa-dosa yang telah dilakukan. Syekh Abdul Hamid berkata:

اعْلَمْ أَنَّ رَجَبَ شَهْرٌ فَضِيْلٌ, وَالْعِبَادَةُ فِيْهِ لَهَا أَجْرٌ جَلِيْلٌ, خُصُوْصًا الصَّوْمُ فِيْهِ وَالْإِسْتِغْفَارُ وَالتَّوْبَةُ مِنَ الْأَوْزَارِ وَفِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْهُ يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ فَيُسْتَحَبُّ

Artinya: “Ketahuilah bahwa Rajab merupakan bulan yang memiliki banyak keutamaan. Beribadah di dalamnya akan mendapatkan pahala yang agung. Terlebih berpuasa dan meminta ampunan serta bertaubat dari dosa-dosa di dalam bulan Rajab. Pada awal bulan Rajab doa-doa dikabulkan, maka disunnahkan untuk melakukannya.” Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT, Bulan Rajab dikenal sebagai bulan istighfar. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Selain itu, bulan Rajab juga merupakan bulan persiapan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Bulan Rajab diibaratkan sebagai musim berdagang dan bertransaksi dengan Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk mengisi bulan Rajab dengan memperbanyak ibadah serta meningkatkan ketakwaan, sebagai bekal dalam menyambut bulan Ramadhan. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Hamid:

وَقَالَ الْعُلَمَاءُ: رَجَبُ شَهْرُ الْإِسْتِغْفَارِ وَشَعْبَانُ شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْقُرْأَنِ, فَاجْتَهِدُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ تَعَالَى فِيْ رَجَبَ فَإِنَّهُ مُوْسِمُ التِّجَارَةِ وَاعْمَرُوْا أَوْقَاتِكُمْ فِيْهِ فَهُوَ أَوَانُ الْعِمَارَةِ. فَمَنْ كَانَ مِنَ التُّجَّارِ فَهَذِهِ الْمَوَاسِمُ قَدْ دَخَلَتْ, وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا بِالْأَوْزَارِ فَهَذِهِ الْأَدْوِيَةُ قَدْ حُمِلَتْ

Artinya, “Para ulama berkata: Bulan Rajab adalah bulan istighfar, bulan Sya’ban adalah bulan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Maka bersungguh-sungguhlah kalian, semoga Allah Taala merahmati kalian, dalam mengisi bulan Rajab, karena sesungguhnya bulan tersebut adalah musim berdagang (dengan Allah). Makmurkanlah waktu-waktu kalian di dalamnya, karena ia adalah waktu untuk memakmurkan amal. Barang siapa termasuk golongan para pedagang, maka inilah musim-musim perdagangan telah datang. Dan barang siapa sedang sakit karena banyak dosa, maka inilah obat-obatnya telah disiapkan.”

Baca Juga : Tolonglah Saudaramu, Maka Allah SWT Akan Menolongmu

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT Marilah kita manfaatkan bulan Rajab yang penuh kemuliaan ini dengan memperbanyak istighfar, meningkatkan ibadah, dan memperbaiki diri melalui tobat yang sungguh-sungguh. Jadikan bulan Rajab sebagai momentum persiapan untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan ketakwaan yang lebih kuat, agar setiap amal yang kita lakukan diterima dan diberkahi oleh Allah SWT, serta menjadi bekal keselamatan kita di dunia dan di akhirat kelak.

]]>
Tolonglah Saudaramu, Maka Allah SWT Akan Menolongmu https://uniska-kediri.id/tolonglah-saudaramu-maka-allah-swt-akan-menolongmu/ Fri, 12 Dec 2025 06:44:17 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9249 Khatib dan Imam : H. Khayatudin, SH., M.Hum.

Hadirin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,

Saat ini Indonesia sedang terkena musibah yang besar, terutama musibah banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lebih dari 600 orang meninggal akibat bencana ini. Maka sudah semestinya kita memiliki empati dan membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak musibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barang siapa meringankan suatu kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan pada hari Kiamat.” Hal ini kembali kepada kaidah bahwa balasan yang diberikan kepada seseorang itu sejenis dengan amal yang ia lakukan.

Banyak nash yang semakna dengan hadits di atas, seperti hadits Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya Allah menyayangi di antara para hamba-Nya orang-orang yang penyayang” (HR. Al Bukhari) Begitu pula hadits Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain : “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia” (HR. Muslim) Kurbah yang disebutkan dalam hadis di atas adalah kesulitan besar yang menyebabkan seseorang dirundung kebingungan dan kesedihan. Tanfiis (naffasa) adalah meringankan beban seseorang dari kesulitan tersebut, sedangkan tafriij (farraja) lebih besar dari itu, yaitu menghilangkan kesulitan dari seseorang sehingga sirna kegundahan dan kesedihannya. Jadi, balasan dari tanfiis adalah tanfiis dan balasan dari tafriij adalah tafriij.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari hadis Anas secara marfu’ bahwa suatu ketika salah seorang penghuni surga pada hari kiamat melihat ke arah penduduk neraka. Lalu salah seorang penghuni neraka berseru memanggilnya dan berkata: “Wahai fulan, apakah engkau mengenaliku?” Penghuni surga pun menjawab bahwa ia tidak mengenalnya dan menanyakan siapa dirinya. Penghuni neraka itu menjelaskan bahwa ia pernah bertemu dengannya di dunia dan ketika itu sang penghuni surga meminta seteguk air darinya lalu ia memberikannya. Mendengar penjelasan tersebut, penghuni surga pun mengingatnya. Lalu penghuni neraka itu meminta agar ia memohonkan pertolongan kepada Allah untuk dirinya. Nabi bersabda bahwa kemudian ia memohon kepada Allah dan berkata: “Jadikanlah aku pemberi syafaat untuknya.” Maka diterimalah syafaatnya untuk penghuni neraka itu sehingga diperintahkan kepada para malaikat untuk mengeluarkan orang tersebut dari neraka.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kesulitan di antara kesulitan-kesulitan di hari kiamat.” Hal ini dikarenakan berbagai kesulitan di dunia, bila dibandingkan dengan kesulitan-kesulitan di akhirat, tidak ada apa-apanya. Dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Banyak orang yang bercucuran keringat di hari kiamat hingga menetes di tanah setinggi tujuh puluh hasta dan mengekang mereka hingga tingginya mencapai telinga-telinga mereka” (HR. Al-Bukhari).
Dalam Shahih Muslim, dari al-Miqdad ibn al-Aswad radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat, matahari akan mendekat kepada para hamba sehingga jaraknya dari mereka sekitar satu mil. Maka orang-orang akan bercucuran keringat sesuai dengan amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya hanya mencapai kedua mata kaki, ada yang mencapai dua lutut, ada yang mencapai dada, dan ada yang terkekang mulutnya dengan keringatnya” (HR. Muslim).

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang siapa memudahkan bagi orang yang kesulitan, maka Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.” Hal ini menunjukkan bahwa kesulitan akan terjadi di akhirat. Allah telah menegaskan tentang hari kiamat bahwa hari itu adalah hari yang sulit dan tidak mudah bagi orang-orang kafir. Kemudahan di hari itu hanya berlaku untuk selain orang kafir. Allah Ta’ala berfirman: “Dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang kafir” (QS. Al-Furqan: 26) Memudahkan orang yang kesulitan di dunia dalam segi harta dapat dilakukan dengan salah satu dari dua hal.

Pertama, memberikan waktu penundaan hingga ia mendapatkan kemudahan (mampu membayar utangnya). Hal ini hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan” (QS. Al-Baqarah: 280) Atau kedua, dengan membebaskannya dari tanggungan utang apabila orang yang memberi kemudahan adalah pihak yang menghutanginya. Jika bukan, maka ia dapat memberikan bantuan harta yang dapat menghilangkan kesulitan tersebut. Keduanya memiliki keutamaan dan pahala yang sangat agung.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada seorang pedagang yang menghutangi orang-orang, maka jika ia melihat orang yang kesulitan membayar hutang, ia berkata kepada para pembantunya: Biarkan dan bebaskan dia, mudah-mudahan Allah mengampuni dan membebaskan kita, maka Allah pun mengampuni pedagang tersebut” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Suatu ketika ada seorang laki-laki yang meninggal, maka ditanyakan kepadanya: dengan sebab apa Allah mengampuni dosa-dosamu? Maka ia menjawab: Aku berdagang dan berjual beli dengan banyak orang, maka aku mempermudah terhadap orang-orang yang berkecukupan dan meringankan orang yang kesulitan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim. Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang ingin dikabulkan doanya dan diangkat kesulitannya, hendaklah ia membebaskan orang yang kesulitan” (HR. Ahmad).

Baca Juga : Luasnya Ampunan Allah bagi Hamba yang Bertobat

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Mari kita doakan mudah-mudahan saudara-saudara kita yang terkena dan terdampak musibah diberi ketabahan, kesabaran, serta jalan keluar dan kemudahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

]]>
Luasnya Ampunan Allah bagi Hamba yang Bertobat https://uniska-kediri.id/luasnya-ampunan-allah-bagi-hamba-yang-bertobat/ Fri, 28 Nov 2025 06:54:25 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9124 Khatib dan Imam : Ustad Nur Mustofa, M.Pd.

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan yang mengatur seluruh dimensi kehidupan. Dialah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, serta kesempatan untuk merasakan kesehatan dengan nyaman dan tenteram. Dengan izin-Nya pula, pada hari yang penuh berkah ini kita dapat berkumpul dan melaksanakan ibadah Shalat Jumat dengan khidmat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan agung kita, Nabi Muhammad SAW, pembawa cahaya kebenaran dan rahmat bagi seluruh alam. Semoga Allah juga melimpahkan keberkahan kepada keluarga beliau yang suci, para sahabat yang setia memperjuangkan ajaran Islam, serta para ulama yang hingga kini menjaga kemurnian agama dari masa ke masa.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berpesan kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, serta menyiapkan bekal untuk akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Berbuat dosa adalah hal yang tidak mungkin sepenuhnya lepas dari kehidupan kita sebagai manusia. Setiap kita, tanpa terkecuali, pasti pernah tergelincir dalam kesalahan—baik karena kelalaian, kelemahan, maupun godaan yang tidak mampu kita hindari. Namun sebesar apa pun dosa seorang hamba, rahmat Allah SWT selalu jauh lebih besar. Allah tidak menutup pintu ampunan bagi siapa pun yang datang dengan hati bersih dan tulus. Bahkan Allah mencintai hamba yang mau bertobat, memohon ampun, dan berusaha memperbaiki diri, meskipun ia pernah jatuh berkali-kali dalam kesalahan yang sama.

Dalam sebuah hadis Qudsi riwayat Imam Muslim, dari Abu Dzar al-Ghifari, disebutkan bahwa Allah selalu siap menyambut hamba-hamba-Nya yang memohon ampun, meskipun mereka sering melakukan dosa:

Artinya: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian berbuat dosa siang dan malam, namun Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Setiap manusia pasti pernah melakukan kekhilafan. Karena itu, Allah menyediakan ruang taubat agar dapat terlihat ketulusan dan kesungguhan hati kita dalam mengakui kesalahan. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, ia sedang berusaha memutus rantai kemaksiatan dan membuka jalan baru yang lebih bersih. Hal itu hanya dapat terjadi ketika hati sadar bahwa hidup ini tidak layak dihabiskan dalam dosa yang sama secara berulang.

Tidak heran Allah memberikan peringatan agar kita tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Dalam QS. Az-Zumar ayat 53–54, Allah menegaskan:

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.’”

Dalam menjelaskan makna “melampaui batas” dalam ayat ini, Al-Mawardi dalam An-Nukat wa al-‘Uyun (jilid 5, halaman 131) menyebutkan dua bentuk perbuatan: (1) syirik atau menyekutukan Allah, dan (2) melakukan dosa secara terus-menerus meskipun seseorang masih beriman. Karena itu, umat Islam dilarang berputus asa dari rahmat Allah yang sangat luas.

Lebih lanjut, terkait makna “Allah mengampuni seluruh dosa”, Al-Mawardi menjelaskan tiga pendapat:

  1. Allah mengampuni dosa karena taubat hamba-Nya.
  2. Allah mengampuni dosa dengan karunia dan pemaafan-Nya, kecuali dosa syirik.
  3. Allah mengampuni dosa-dosa kecil apabila seseorang menjauhi dosa-dosa besar.

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Setiap manusia pasti pernah tergelincir dalam kesalahan. Namun Allah selalu membuka pintu ampunan bagi siapa pun yang kembali kepada-Nya. Tidak ada dosa yang terlalu besar selama hamba masih mau bertaubat dan memperbaiki diri. Karena itu, jangan menunda taubat dan jangan larut dalam putus asa. Segeralah kembali kepada Allah dengan hati yang jujur dan tulus.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa diberi ampunan, dijaga dari kesalahan yang berulang, dan dimantapkan langkahnya menuju kebaikan.

Aamiin.

Baca Juga : Tiga Perkara Yang Harus Dihindari

]]>
Tiga Perkara Yang Harus Dihindari https://uniska-kediri.id/tiga-perkara-yang-harus-dihindari/ Fri, 21 Nov 2025 05:28:20 +0000 https://uniska-kediri.id/?p=9060 أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له. واشهد ان سيدنا محمدا عبده و رسوله النبي المختار. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله الأطهار وأصحابه الأخيار وسلم تسليما كثيرا. أما بعد فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah yang Maha Agung shalawat dan salam terhaturkan kepada Rasulullah manusia paling sempurna di jagat alam. Pada hari kesempatan yang istimewa ini marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Karena ketaqwaanlah yang akan membawa kita pada keselamatan.

Khutbah kali ini ingin menyampaikan satu hadits Rasulullah saw yang jika diperhatikan secara seksama memberikan ajaran kepada seorang muslim agar tidak terjerumus dalam kerugian. Hadits itu berbunyi:

رُوِىَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِناَهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ

Diriwayatkan dari Nabi saw sesungguhnya beliau pernah bersabda: barang siapa bangun di pagi hari kemudian mengadukan kesulitannya kepada sesama (mahkluk/manusia), maka seolah-olah ia mengadukan tuhannya (karena tidak rela dengan apa yang diterimanya). Dan barang siapa merasa  sedih dengan kondisi duniawinya di waktu pagi, maka dia pagi-pagi telah membenci Allah. Dan barang siapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya.  

Itulah tiga hal yang seharusnya dihindarkan oleh setiap muslim. Mengingat ketiga hal tersebut memiliki dampak buruk kepada hubungan manusia dengan Allah swt.

Pertama, hindarkanlah kebiasaan mengeluh kepada sesama akan kondisi yang ada. Karena hal itu sama artinya dengan menggugat taqdir Allah swt yang ditetapkan bagi seorang hamba. Mengeluh dan meratapi nasib yang diderita sama artinya dengan merasa tidak puas akan pemberian Allah swt. Ketidak puasan itu adalah manusiawi, tetapi hendaknya langsung saja diratapkan dalam doa kepada-Nya janganlah diadukan kepada sesama. Sebagaimana do’a Nabi Musa yang dipantajkan kepada Allah swt tatkala beliau melewati lautan berama kaumnya:

اَلَّلهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَاِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 

Ya Allah segala puji bagi-Mu. Kepada Engkaulah aku mengadu dan hanya Engkau yang bisa memberi pertolongan. Tiada daya dan upaya, serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha  Tinggi lagi Maha Agung

Kedua, hindarkanlah perasaan sedih dengan kondisi yang ada dipagi hari. Karena hal itu akan menimbulkan rasa tidak ridha dengan apa yang diberikan Allah kepada kita. Kedua larangan ini adalah bukti ketdak sabaran seorang hamba akan nasibnya. Sesungguhnya orang yang sabar tidak akan menggerutu apalagi mengadukan nasibnya kepada sesama.

Karena sejatinya sabar adalah Tajarru’ul murarati bighairi ta’bitsin (tahan menelan barang pahit tanpa cemberut). Oleh karena itu, ketika di pagi hari kita telah menggerutu akan keadaan nasib kita, berarti kita bukan lagi orang yang sabar. Apalagi hingga mengadukan nasib kita kepada sesama manusia dengan mengeluhkan keberadaan dan keadaan yang kita alami.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Ketiga, barang siapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya. Poin ketiga dan terkahir ini dapat dimaknai sebagai larangan Rasulullah saw akan adanya persaan thama’ dan pengharapan yang tinggi kepada sesama. Karena pengharapan itu hanya boleh disandarkan kepada Allah swt saja.

Sedangan pada sisi lain juga menunjukkan larangan pengagungan sesama manusia, apalagi pengagungan itu dilatar belakangi kepimilikan harta, sungguh hal itu pasti akan berimbas pada penghinaan ilmu dan kemaslahatan.

Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah

Jika demikian adanya berbagai larangan, lantas apakah hal yang diperbolehkan untuk kita dalam menilai lebih sesama manusia? Islam hanya memberikan dua alasan kepada umatnya agar saling menghargai dan memuliakan pertama karena ilmunya, karena kebaikannya. Selebihnya tidak ada. Jadi siapapun yang memuliakan manusia dengan berbagai alasan sesungguhnya orang itu telah terjerembab kepada lubang kecil yang jika dibiarkan akan menenggelamkan diri pada lumpur kethamakan.

Akhirul kalam, pada khutbah ini khatib hanya ingin menyampaikan pesan Sayyidul Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bahwa:

لاَبُدَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ فِى سَائِرِ اَحْوَالِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاء: أَمْرٌ يَمْتَثِلُهُ وَنَهْيٌ يَجْتَنِبُهُ وَقَدْرٌ يَرْضَى بِهِ

Setiap muslim harus berada dalam tiga keadaan yaitu, melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan Allah dan rela akan qadha dan qadar (ketetapan) Allah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

مَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

 

]]>